Langsung ke konten utama

KERIS ORANG MINANG

Keris orang Minangkabau itu di depan, bukan di samping atau di belakang, ada falsafah yang tersembunyi disana mengapa keris orang Minang itu di depan. 
'Patah lidah bakeh kalah, patah karih bakeh mati' 
Begitu bunyi pepatah, orang Minang hanya mengangguk pantang untuk membungkuk, jika disuruh atau di paksa membungkuk keris mesti dicabut dahulu, patah karih bakeh mati
Sukar bagi orang lain ( bukan orang Minang ) untuk memahami falsafah ini, hanya orang Minang yang mengerti itu pun bagi mereka yang arif dan bijak dalam memahami kiasan, setiap kieh atau  kiasan memerlukan kejelian dan ketangkasan dalam berfikir kadang kiasan itu tidak bisa di artikan dengan logika. 
Falsafah atau Kiasan-kiasan inilah yang telah membentuk kepribadian anak Minang baik di kampung maupun di rantau orang.
Ada satu lagi kiasan yang sudah jarang di sebut orang 'Anak Minang tidak merantau kalau tidak berisi' 
Makna atau arti secara mendatar orang beranggapan berisi yang di maksud tentulah isi dalam ilmu kebatinan, kalau di artikan dengan mendalam berisi yang di maksud adalah kiasan-kiasan atau falsafah yang membimbing atau menuntun diri si anak Minang  dalam menjalani kehidupan di rantau orang, secara tidak langsung falsafah ini juga sebagai penasehat dan juga pelindung diri bagi anak Minang dimanapun berada.
Jikok tagak tagaklah di nan data
Jikok bajalan bajalanlah di nan luruih
Jikok bakato bakatolah di nan bana
Di mano aia disauak di sinan rantiang di patah 
Di mano bumi dipijak disinan langik dijujuang
Karatau madang di hulu, babuah babungo balun
Ka rantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun 
Jikok pandai ba kain panjang 
labiah bak raso ba kain saruang 
Jikok pandai ba induak samang
Labiah bak raso badunsanak kanduang
Nak kanduang ijan panangih
Urang panangih lakeh rabun 
Urang panggamang mati jatuah
Urang parusuah lakeh tuo 
Urang pamberang tangga iman 
Sikajuik si bilang bilang 
Nan ka tigo si runpun sarai 
Hiduik usah mangapalang 
Tak kayo barani pakai
dan banyak lagi kiasan-kiasan yang jadi bekal untuk anak Minang merantau di negeri orang. 
Kembali kita ke atas ndan👆
Bagi orang Minang  adat dan syarak sudah sebati tidak dapat di pisahkan lagi dengan orang Minang, biar mati anak asal jangan mati adat, adat di Islamkan dan Islam di adatkan, bukan orang Minang kalau bukan beragama Islam, sebab itu si penjilat sangatlah hina dimata orang Minang jika Alquran mengutuk si penjilat orang Minang juga mengutuk, si penjilat itu sendiri yang   mencabut kerisnya, dia tidak lagi  mengangguk bahkan mematahkan kerisnya untuk membungkuk demi kepentingan diri, mati akal, mati rasa, mati maruah diri, adat dan syarak dibuang jauh-jauh, malu bukan lagi pakaian diri, hina badan bagaikan yang berkaki empat, membungkuk membelakangi langit.
Wassalam...
Khairullah Al Basrie
Kuala Lumpur 28 - 04 -2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kisah Umar

Suatu hari, Umar  sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata : "Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !". Umar segera bangkit dan berkata : "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?" Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : "Benar, wahai Amirul Mukminin." "Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar. Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : "Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon ...

SUATU SAAT KITA AKAN MENINGGALKAN MEREKA JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN

Copas dr salah satu mentor saya : Perenungan atas kejadian bunuh diri kakak beradik di Bandung.  Kedua korban menderita gangguan jiwa setelah ibunya meninggal dunia. SUATU SAAT KITA AKAN MENINGGALKAN MEREKA JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN By : * Elly Risman * (Senior Psikolog dan Konsultan, UI) Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri . Jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci. ya jadi ayah, ya jadi supir, ya jadi tukang ledeng, Anda bukan anggota tim SAR! Anak anda tidak dalam keadaan bahaya. Tidak ada sinyal S.O.S! Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya. #Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!". #Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja". #Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan". #Kecipratan sedikit minyak...

JANGAN PERNAH MENAGIH HUTANG

Seorang ayah berpesan pada kedua anaknya, Ingat 2 hal ini ya.. Pertama, jangan pernah kamu menagih piutang Kedua,  jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari secara langsung 5 tahun berlalu setelah sang ayah wafat, Sang ibu datang menengok anak sulungnya  “Wahai anak sulungku kenapa kondisi bisnismu demikian?” Si Sulung menjawab : “Saya mengikuti pesan ayah bu… Ayah bilang,  Saya dilarang menagih piutang kepada siapapun sehingga banyak piutang yg tidak dibayar dan lama² habislah modal saya.. Terus ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsung dan saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya pergi dan pulang kantor saya selalu naik taxi, beginilah akhirnya" Sang ibu merenung, lalu sang ibu pergi ke tempat si bungsu , Ternyata si bungsu sekarang menjadi orang sukses, Sang ibu pun bertanya “Wahai anak bungsuku, hidupmu sedemikian beruntung, apa rahasianya…?” Si bungsu menjawab : “Ini karena saya mengikuti pesan ayah bu.. Pesan yg pertama saya dila...